Perlakuan yang Baik untuk Jagung Pasca Panen

Jagung merupakan bahan pakan yang memiliki posisi penting dalam mendukung perekonomian nasional, karena merupakan sumber karbohidrat sebagai bahan baku industri pangan, pakan ternak unggas dan  ikan, serta biofuel. Peningkatan permintaan jagung oleh industri pakan, pangan, dan industri turunan berbasis jagung (integrated corn industry) menyebabkan permintaan jagung terus meningkat. Namun produsi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan. Salah satu tanmaan yang mudah terserang berbagai macam hama yaitu tanaman jagung. Serangan serangga hama dapat menurunkan kuantitas dan kualitas jagung.

Berdasarkan seri buku inovasi (Agroinovasi) tentang Teknologi Budidaya Jagung pemanenan jagung dilakukan pada umur 100 hst (hari setelah tanam). Jagung yang siap panen yaitu jagung yang telah masak fisiologis dengan ciri-ciri daun jagung dan klobot telah kering dan berwarna kekuning-kuningan. Jika jagung dipanen sebelum atau setelah masak fisiologis maka kualitas kimia biji jagung seperti kadar protein menurun dan karbohidrat akan meningkat.

Permasalahan yang dialami saat panen jagung diantaranya :

  1. Panen dalam keadaan curah hujan tinggi yaitu kadara ir lebih dari 17%.
  2. Penjemuran langsung di ladang atau dikeringkan di lantai jemur (matahari), hal ini menyebabkan jagung mudah ditumbuhi jamur, serangan hama kumbang bubut, dan kotoran.
  3. Penundaan panen dengan menumpuk tongkol jagung akan menimbulkan serangan cendawan 56 – 68%
  4. Luka yang terjadi saat pemipilan saat kadara air masih tinggi yaitu lebih dari 20%
  5. Semakin tinggi kadar air dan semakin lama disimpan maka infeksi cendawan akan lebih besar dan terjadi pula serangan hama kumbang bubuk.

Produk jagung di tingkat petani yang tidak terserap oleh industri dikarenakan terdapatnya permasalahan kadar air tinggi, butiran jagung banyak yang rusah, warna butir tidak seragam, dan butiran yang pecah atau adanya kotoran. Persyaratan mutu jagung menurut SNI yaitu terdiri dari persyaratan kualitatif dan kuantitatif.

Persyaratan kualitatif meliputi :

  1. Bebas dari hama dan penyakit
  2. Bebas dari bau busuk atau zat kimia lainnya (berupa asam)
  3. Bebas dari bahan dan sisa-sisa pupuk maupun pestisida

Pengendalian mutu jagung merupakan suatu usaha mempertahankan mutu selama proses produksi sampai tangan konsumen dengan biaya seminimal mungkin. Kegiatan pasca panen jagung terdiri dari pemanenan, pengeringan awal, pemipilan, pengeringan akhir, pengemasan, dan penyimpanan. Peneringan bertujuan menurunkan kadara air sampai batas tertentu untuk menghentikan reaksi biologis agar serangga tidak bisa hidup. Pengeringan terdapat 2 bentuk yaitu pengeringan dalam bentuk gelondong (18%) dan pengeringan butiran setelah jagung dipipil. Pemipilan yaitu proses pemisahan jagung dari tongkolnya. Terdapat dua metode pemipilan yaitu secara tradisional menggunakan tangan atau alat bantu (kayu, pisau, dll) dan modern yaitu corn sheller. Pengeringan akhir yaitu pengeringan dengan biji jagung yang sudah dipipil. Metode pengeringan terdiri dari 2 yaitu secara tradisional dengan sinar matahari dan modern dengan menggunakan batche dryer (50 – 60)°C.

Penyimpanan jagung secara umum yaitu menggunkaan karung goni atau plastik yang tahan sekitar 2 bulan. Biasanya jagung mudah terserang oleh hama gudang Dolesses viridis, Sitophillus zeamais, dan Cryptoleptes pessillus. Besarnya kehilangan dan kerusakan jagung setelah pemanenan sampai penyimpanan berkisar 8,6 – 20,2% akibat dari serangan serangga, jamur, tikus, kondisi awal penyimpanan, dan cara dan alat penyimpanan serta faktor lingkungan. Penyimpanan jagung pipiplan (pangan/pakan) dapat disusun dalam karung secara teratur dan curah dalam bentuk silo. Pengendalian hara dilakukan ketika harga pasar jatuh (kelebihan stok), kemudian ketika harga jual membaik (dilepas ke pasaran).