Potensi Rumput Napier Pakchong (Panicum maxium L.) sebagai Pakan Domba di Jawa Barat

 

Rumput Pakchong

            Rumput Napier Pakchong merupakan rumput hasil persilangan antara Pennisetum purpureum (rumput napier biasa) dan Pennisetum glaucum. Rumput pakchong berasal dari Thailand dan persebarannya sudah sampai di Indonesia. Meskipun Namanya masih asing di peternakan rakyat/kecil, tetapi potensi pakchong sangat tinggi sebagai hijauan pakan ternak ruminansia.

Potensi Rumput Pakchong

Rumput pakchong sangat potensial untuk dijadikan sebagai pakan ternak ruminanasia. Beberapa potensi pakchong sebagai pakan, diantaranya adalah pertama, pertumbuhannya yang cepat yaitu dapat dipanen pada 45 hari setelah penanaman. Kedua, rumput pakchong tahan kekeringan. Dengan hal itu maka rumput pakchong tidak bergantung pada musim dan dapat tumbuh baik dibanyak daerah di Indonesia. Ketiga, rumput pakchong memiliki kandungan nutrient yang cukup sehingga sangat ideal untuk digunakan sebagai pakan penggemukan pada domba.

Potensi Pakchong sebagai pakan potensial untuk domba di Jawa Barat

Provinsi Jawa barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki populasi ternak tertinggi. Salahsatunya populasi peternakan tertinggi di Jawa barat yaitu domba. Berdasarkan data BPS 2021, Populasi ternak tertinggi di Jawa barat adalah domba yaitu sekitar 12.246.608 ekor. Tingginya populasi domba tersebut harus diimbangi dengaan ketersediaan pakannya. Salah satu pakan yang potensial yaitu rumput pakchong. Rumput pakchong mengandung nutrient yang bagus, yaitu SK dan PK berturut turut adalah 15.25% dan 16.45% (Ramadhanti et al. 2022). Sedangkan kebutuhan domba untuk penggemukan sendiri terdiri dari PK dan SK berturut turut yaitu 17% dan 15-23 %. Hal itu menunjukkan bahwa, rumput pakchong sangat  potensial dijadikan sebagai pakan untuk domba penggemukan di Provinsi Jawa barat.

Perbedaan rumput pakchong dengan rumput odot

Peternak rakyat/kecil sudah lama mengenal rumput odot, namun rumput pakchong masih belum cukup dikenal. Terdapat perbedaan terkait keduanya, dari segi visual rumput pakchong lebih tinggi dibandingkan odot. Selain itu, pakchong lebih rimbun karena batangnya yang pendek dibandingkan pakchon. Dari segi nutrisi, kandungan PK pada pakchog lebih tinggi dibandingkan odot. Kandungan PK pada pakchong yaitu sekitar 16.45 % sedangkan rumput odot hanya 11.6%. Selain itu umur bertahan hidup dan umur  pakcong juga lebih optimalidbandingkan odot. Pakcong mampu bertahan hidup sampai 9 tahun sejak panen pertama. Umur panen pakchong lebih singkat dibandingkan odot, yaitu sekitar30-45 hari setelah penanaman. DIbandingkan pakchong, memiliki umur panen yang lama yaitu sekitar 90-100 hari setelah penanaman. Kesimpulannya, rumput pakchong ini leboh potensial untuk dijadikan hijauan pakan ternak dibandingkan rumput odot.