Himasiter Mengadakan Webinar Series Revitalisasi Pakan dan Teknologi Presesi Peternakan Unggas

Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan IPB University gelar webinar “Revitalisasi Pakan dan Teknologi Presisi sebagai Alternatif Swasembada Unggas di Era Society 5.0”, (26/6). Webinar ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. Sumiati, M. Sc, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University dan Dr. Ir. Audy Joinaldy, S.Pt, M.Sc, M.M, IPM, ASEAN.Eng. Ketua Umum HANTER, Wakil Gubenur Sumatera Barat sebagai pembicara.

Prof Sumiati memberikan materi mengenai revitalisasi bahan baku pakan lokal menuju swasembada unggas.

Menurutnya, permasalahan terkini pada peternakan salah satunya adalah  kebutuhan beberapa bahan baku pakan ternak unggas yang masih mengandalkan dari pasokan impor.

“Beberapa fakta terkait bahan pakan unggas impor adalah yang diimpor itu terutama soybean meal impor 100%. Secara volume, raw material (bahan baku) impor itu hanya sekitar 35% dari formula memproduksi pakan ternak. Tapi, secara value, komposisi nilainya itu bisa 50-60% dari total feed (pakan) yang dibuat. Tahun 2022/2023, Indonesia diprediksi akan membutuhkan 5,6 juta ton pasokan soybean meal.” jelas Prof Sumiati.

Menurut Prof Sumiati, salah satu solusi mengatasi permasalahan pakan adalah dengan revitalisasi bahan pakan lokal. Contoh bahan baku lokal potensial sumber energi seperti jagung, dedak padi, sorgum, gaplek/singkong, dan bahan pakan sumber protein seperti kacang koro pedang, maggot serta bungkil inti sawit yang termasuk pakan sumber protein dan energi.
Pak Audy memberikan materi mengenai potensi pengembangan teknoogi presisi dalam peternakan unggas era society 5.0.

Menurutnya, revolusi society 5.0 bertujuan untuk mempercepat transformasi masyarakat yang mendukung kemajuan ekonomi dan sosial dengan mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.

“Beberapa fakta mengenai industri unggas adalah industri unggas sebagai sektor utama perekonomian nasional yang memasok 65% protein hewani bagi masyarakat Indonesia. Industri unggas berkonstribusi sebesar 10% dalam penyerapan tenaga kerja nasional.” Ungkapnya

Untuk meningkatkan value dan standar produk perunggasan dapat dilakukan dengan menggunakan IoT dalam Good Farming Practices (GFP) sertificate.

Ia menjelaskan, beberapa manfaat implementasi IoT yaitu pemeliharaan yang sehat, mengurangi beban kerja, mengurangi cost, meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, meningkatkan kualitas data, pengambilan keputusan berdasarkan data.

“Adanya krisis akibat pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan besar dalam pola hidup konsumen. Orang yang dapat membaca situasi perubahan pola tersebut dapat memanfaatkannya sebagai peluang bisnis dan dapat menggerakkan ekonomi lebih, termasuk dalam industri perunggasan” tandasnya.


Regard,

Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak 2019/2020
Faculty of Animal Science
Bogor Agricultural University