browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Artikel

JENIS-JENIS TEKNIK PENGOLAHAN PAKAN

 

Rio Dewantoro (D24150004)

Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor

teknologi pengolahan pakan konsentrat

Produktivitas dan efisiensi ternak merupakan kunci utama usaha peternakan.  Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi ternak,  salah satunya melalui pengembangan aspek pakan. Terdapat sejumlah teknik pengolahan pakan yang telah dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi ternak, baik secara fisik, kimia, dan biologi, serta dari teknik yang sederhana hingga teknik yang kompleks. Beberapa teknik pengolahan pakan dijelaskan sebagai berikut :

  1. Penambahan acidifier

Penambahan zat asam (acidifier) ke dalam ransum merupakan salah satu teknik pengolahan pakan kimiawi. Salah satu zat asam yang dapat digunakan adalah asam sitrat. Tujuan penambahan acidifier adalah meningkatkan meningkatkan performa ternak melalui peningkatan kualitas pakan dan penghambatan mikroba patogen saluran pencernaan. Yendy et al. (2014) melaporkan bahwa penambahan asam sitrat dalam ransum itik lokal meningkatkan retensi kalsium dan fosfor.

  1. Proteksi Protein Pakan

Teknik ini diaplikasikan terhadap pakan ternak ruminansia. Proteksi protein pakan bertujuan melindungi kandungan protein berkualitas unggul pada pakan dari degradasi mikroba rumen. Degradasi protein oleh mikroba rumen akan mengonversi protein menjadi amonia, sehingga diperlukan proteksi agar protein pakan menjadi lolos degradasi rumen dan dapat diserap sebagai asam amino di usus halus. Salah satu bahan yang digunakan dalam teknik ini adalah formaldehid. Suhartanto et al. (2014) melaporkan bahwa penggunaan 1% formaldehid melindungi protein bungkil kedelai.

  1. Pembuatan Wafer

Pembuatan wafer merupakan teknik mengubah bentuk pakan menjadi kompak dan ringkas, misalnya berbentuk persegiempat. Dalam proses pembuatannya, dibutuhkan alat press dan pemanas. Tujuan pembuatan wafer adalah memudahkan penyimpanan serta transportasi. Selain itu, wafer juga dapat meningkatkan asupan nutrisi ternak melalui formulasi wafer yang tepat (Trisyulianti et al. 2003).

  1. Amoniasi

Amoniasi dilakukan dengan penambahan urea ke dalam pakan ternak ruminansia, misalnya jerami padi, guna meningkatkan kualitas pakan. Dengan teknik ini, kandungan protein kasar jerami padi dapat ditingkatkan. Selain itu, amoniasi juga meningkatkan palatabilitas dan kecernaan pakan (Ahmed et al. 2002). Amoniasi dilakukan dengan penyemprotan larutan urea ke jerami padi, kemudian disimpan selama 3-4 minggu. Dosis urea adalah 5% bahan kering jerami padi yang digunakan (Bata 2008).

  1. Pembuatan Silase (Ensiling)

Silase merupakan awetan basah hijauan pakan ternak yang cocok diterapkan di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Prinsip pembuatan silase adalah dengan mengondisikan hijauan pakan ternak dalam keadaan anaerob, sehingga memacu perkembangan bakteri asam laktat. Peningkatan populasi bakteri asam laktat akan meningkatkan produksi asam organik oleh bakteri tersebut, sehingga pH silase menurun dan pertumbuhan bakteri patogen terhambat. Teknik pembuatan silase yang baik akan menghasilkan silase yang mampu disimpan dalam waktu yang panjang, hingga mencapai lebih dari 1 tahun.  Dalam pembuatannya, kondisi anaerob dapat diupayakan dengan cara pemadatan bahan silase semaksimal mungkin dan penambahan sumber karbohidrat mudah larut. Untuk mendapat hasil yang baik, hijauan sebaiknya dilayukan dahulu (kadar air sekitar 60%) sebelum dibuat menjadi silase dan diberi tambahan sebanyak 1-3% molasses dan 5-15% bekatul (Hidayat 2014).

  1. Pencacahan (Chopping)

Pencacahan umumnya dilakukan terhadap pakan ruminansia, baik berupa hijauan pakan ternak maupun limbah pertanian. Dalam penggunaan skala kecil, pencacahan dapat dilakukan secara manual menggunakan parang. Namun, dalam  penggunaan skala besar, pencacahan dilakukan dengan alat bantu berupa chopper. Tujuan pencacahan secara umum adalah meningkatkan konsumsi pakan ternak. Sebagai contoh, pada ternak ruminansia yang diberi pakan rumput gajah, ternak  cenderung memilih untuk tidak mengonsumsi bagian batang rumput. Pencacahan rumput gajah mencegah ternak memilih, sehingga meminimalisir jumlah rumput gajah yang tidak dikonsumsi ternak.

  1. Penggilingan (Grinding)

Prinsip pengolahan pakan menggunakan teknik penggilingan adalah serupa dengan pencacahan, yaitu pengecilan ukuran partikel pakan. Letak perbedaannya adalah penggilingan mengubah ukuran partikel pakan menjadi ukuran yang halus.  Beberapa tujuan penggilingan adalah meningkatkan homogenitas bahan pakan saat proses pencampuran (mixing) dan meningkatkan ketersediaan pakan. Mengacu pada Wahyono et al. (2017), penggilingan dapat meningkatkan nilai kecernaan jerami padi.

  1. Perendaman (Soaking)

Perendaman ditujukan untuk berbagai tujuan, tergantung bahan yang digunakan. Perendaman dengan air dapat dilakukan untuk menurunkan efek toksik pada umbi dan daun singkong, sedangkan perendaman tongkol jagung dalam filtrat abu sekam padi dapat menurunkan kadar lignin dan serat kasar (Kriskenda et al. 2016).

  1. Pembuatan Pellet (Pelletizing).

Teknik ini dapat diaplikasikan pada pakan berbagai jenis ternak, misalnya unggas, ruminansia, serta hewan kesayangan (kucing, anjing, kelinci). Teknik ini bertujuan meningkatkan konsumsi pakan, memudahkan penyimpanan, serta memudahkan transportasi. Mengacu pada Nugroho et al. (2012), pakan berbentuk pellet menghasilkan produksi kelinci yang lebih baik daripada pakan berbentuk mash.

  1. Pembuatan Hay

Hay merupakan awetan hijauan yang dihasilkan melalui pengeringan. Pembuatan hay ditujukan sebagai langkah untuk menyimpan kelebihan produksi hijauan untuk digunakan sebagai cadangan pakan saat musim kekurangan hijauan. Pengerngan hay dapat dilakukan secara alami menggunakan sinar matahari, maupun secara buatan menggunakan oven.

Daftar Pustaka

Ahmed A, Khan MJ, Shahjalal M, Islam KMS. 2002. Effects of feeding urea and soybean meal treated rice straw on digestibility of feed nutrient and     growth performance of bull calves. Asian-Aus. J. Anim-Sci. 15 : 522-527.

Bata M. 2008. pengaruh molases pada amoniasi jerami padi menggunakan urea terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik in vitro. Agripet. 8 (2) : 15-20.

Hidayat N. 2014. Karakteristik dan kualitas silase rumput raja menggunakan berbagai sumber dan tingkat penambahan karbohidrat fermentable.            Agripet. 14 (1) : 42-49.

Kriskenda, Heriyadi D, Hernaman I. 2016. Pengaruh perendaman tongkol jagung  dengan berbagai konsentrasi filtrat abu sekam padi terhadap kadar lignin  dan serat kasar. Majalah Ilmiah Peternakan. 19 (1) : 24-27.

Nugroho SS, Budhi SPS, Panjono. 2016. Pengaruh penggunaan konsentrat dalam  bentuk pelet dan mash pada pakan dasar rumput lapangan terhadap          palatabilitas dan kinerja produksi kelinci jantan. Buletin Peternakan. 36 (3): 169-173.

Suhartanto B, Utomo R, Kustantinah, Budisatria IGS, Yusiati LM, Widyobroto BP. 2014. Pengaruh penambahan formaldehid pada pembuatan undegraded protein dan tingkat suplementasinya pada pelet pakan lengkap terhadap aktivitas mikrobia rumen secara in vitro. Buletin Peternakan. 38 (3): 141-149.

Trisyulianti E, Suryahadi, Rakhma VN. 2003. Pengaruh penggunaan molases dan  tepung gaplek sebagai bahan perekat terhadap sifat fisik wafer ransum       komplit. Med.Pet. 26: 35-40.

Wahyono T, Rizqi IA, Sumarlin LO, Larasati TRD, Suharyono. 2017. Pengaruh     ukuran partikel dan fermentasi menggunakan Aspergillus niger yang telah    diiradiasi terhadap degradabilitas in sacco jerami padi. Buletin Peternakan. 41 (3): 271-278.

Yendy SA, Mangisah I, Sukamto B. 2014. Pengaruh penambahan asam sitrat dalam ransum sebagai acidifier terhadap retensi kalsium dan fosfor itik         jantan lokal. Animal Agriculture Journal. 3(1): 70-78.

Rio Dewantoro (D24150004), Himasiter IPB 2017/2018